Ayat Al Qur'an tentang Toleransi

Anjuran Bertoleransi dalam Al Qur’an

Pada materi kali ini kita akan membahas ayat-ayat Al-Qur’an tentang anjuran bertoleransi! Di berbagai suku dan pulau kita mempunyai bermacam agama dan bahasa yang berbeda satu sama lain. Maka dari itu sangatlah penting hormat menghormati antara agama satu sama lain sesuai dengan kepercayaan yang dianut.

Negara yang makmur yang tenteram tidak ada perbedaan agama dan kesalahpahaman antara agama yang satu dengan yang lain atau keributan apalagi menyebabkan bom dan kerusuhan akibat kesalahpahaman antarsatu sama lain. Dan menyebabkan korban akibat kesalahpahaman. Maka dari itu sangatlah penting kita menumbuhkan rasa saling menghargai antara agama sesuai kepercayaan yang dianut. Dengan kelebihan dan kekuarangan itu hendaknya kita kembangkan sikap toleransi karena tanpa toleransi kehidupan akan menjadi kacau, timbul fitnah dan permusuhan.

Toleransi dalam Al-Qur’an

A. Membiasakan Perilaku Bertoleransi yang Terkandung dalam Surat Al-Kaafiruun Ayat 1-6

قُلْ يٰٓأَيُّهَا الْكٰفِرُوْنَ ﴿الكافرون: ١

1. Katakanlah (Muhammad), Wahai orang-orang kafir!

لَآ أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُوْنَ ﴿الكافرون: ٢

2. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah,

وَلَآ أَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ أَعْبُدُ ﴿الكافرون: ٣

3. dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah,

وَلَآ أَنَا۠ عَابِدٌ مَّا عَبَدْتُّمْ ﴿الكافرون: ٤

4. dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah,

وَلَآ أَنْتُمْ عٰبِدُوْنَ مَآ أَعْبُدُ ﴿الكافرون: ٥

5. dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah.

لَكُمْ دِيْنُكُمْ وَلِىَ دِيْنِ ﴿الكافرون: ٦

6. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku.

Mengamalkan Surat Al Kaafiruun Ayat 1-6

Surat Al-kaafiruun termasuk golongan surat-surat Makkiyah, karena turun di Makkah terdiri 6 ayat. Nama Al-Kaafiruun diambil dari salah satu kata yang terdapat dalam ayat pertama yang artinya “orang-orang kafir”.

Surat ini diturunkan ketika Rasulullah saw. Menjalankan tugas sebagai nabi dan rasul Allah menyeru kaum kafir Makkah untuk menyembah Allah semata. Namun mereka menolak seruan nabi mengajak beliau agar mau saling menyembah kepada Tuhan masing-masing. Artinya mereka siap menyembah Allah SWT. Sebagai Tuhannya Nabi Muhammad asalkan beliau juga bersedia menyembah berhala sebagai Tuhan mereka. Tawaran orang-orang kafir itu akhirnya ditolak oleh nabi berdasarkan wahyu yang telah diterimanya, yaitu surat Al-Kaafiruun 1-6.

Isi pokok surat Al-Kaafiruun ayat 1-6, sebagai berikut:

  • Penegasan bahwa Tuhan yang disembah (ma’bud) Nabi Muhammad saw dan umat Islam berbeda dengan Tuhan yang disembah (ma’bud) orang-orang kafir.
  • Penolakan Nabi Muhammad saw dan umat Islam terhadap kaum kafir untuk mencampuradukkan keimanan dan peribadahan yang diajarkan agama Islam yang penuh ketauhidan dengan keimanan dan peribadahan yang diajarkan agama kaum kafir yang penuh kesyirikan.
  • Umat Islam harus memiliki sikap toleransi terhadap sesama, baik dalam kehidupan sosial ekonomi, politik, budaya, maupun agama.
  • Toleransi beragama bukan berarti mencampuradukkan ajaran agama, karena hal itu dilarang dalam ajaran Islam.

Diantara perilaku bertoleransi yang harus dibiasakan seorang muslim/muslimah sesuai surat Al Kaafiruun ayat 1-6, antara lain.

  • Tidak mengganggu orang lain yang berbeda agama dan keyakinan dengan kita. Sebab dalam agama Islam tidak ada paksaan bagi siapapun untuk memeluk agama Islam.
  • Tidak mau menerima (menolak) bujuk rayu dari orang lain yang bermaksud mengajak kita keluar dari agama Islam dengan tegas dan bijaksana.
  • Menganggap orang lain sebagai saudara meskipun berbeda agama dan keyakinan, sehingga tercipta kerukunan dan kedamaian.
  • Selalu bersikap hormat dan menghargai orang lain yang berbeda keyakinan dan agamanya sehingga tercipta kebersamaan dalam perbedaan.

B. Membiasakan Perilaku Bertoleransi yang Terkandung dalam Surat Yuunus Ayat 40-41

وَمِنْهُمْ مَنْ يُؤْمِنُ بِهِ وَمِنْهُمْ مَنْ لَا يُؤْمِنُ بِهِ ۚ وَرَبُّكَ أَعْلَمُ بِالْمُفْسِدِينَ . وَإِنْ كَذَّبُوكَ فَقُلْ لِي عَمَلِي وَلَكُمْ عَمَلُكُمْ ۖ أَنْتُمْ بَرِيئُونَ مِمَّا أَعْمَلُ وَأَنَا بَرِيءٌ مِمَّا تَعْمَلُونَ

Arti Terjemahan:

“Diantara mereka ada orang-orang yang beriman kepadanya (Al-Qur’an), dan diantaranya ada (pula) orang-orang yang tidak beriman kepadanya. Sedangkan Tuhanmu mengetahui tentang orang-orang yang berbuat kerusakan. Dan jika mereka (tetap) mendustakanmu, maka katakanlah: bagiku pekerjaanku, dan bagimu pekerjaanmu. Kamu tidak bertanggung jawab terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Yuunu 40-41)

Mengamalkan Surat Yuunus Ayat 40-41

Surat Yuunus termasuk golongan surat-surat Makkiyah, kecuali ayat 40, 49, dan 95 yang turun di Madinah. Surat Yuunus terdiri atas 109 ayat. Surat ini dinamai Yuunus karena di dalamnya terdapat kisah Nabi Yunus dan para pengikutnya yang sangat teguh keimanannya kepada Allah SWT. Isi pokok surat Yuunus ayat 40-41, sebagai berikut:

  • Ketika Nabi Muhammad saw. diutus sebagai rasul Allah yang terakhir dengan membawa Al-Qur’an, maka umat manusia terbagi menjadi dua golongan; ada yang beriman dan ada pula yang tidak beriman.
  • Islam adalah agama yang sangat toleransi.
  • Tidak ada paksaan untuk memeluk agama, termasuk agama Islam.
  • Kita diperintahkan mengajak seseorang beriman kepada Allah, tetapi apabila menolak atau bahkan menentang, katakanlah Anda melakukan apayang Anda yakini, dan akupun melakukan apa yang menjadi keyakinanku.

Diantara perilaku bertoleransi yang harus dibiasakan seorang muslim/muslimah sesuai surat Yuunus ayat 40-41, antara lain.

  • Selalu menghargai aqidah dan keyakinan yang dianut orang lain, sebab setiap orang berhak memiliki keyakinannya masing-masing.
  • Selalu bersikap waspada terhadap orang lain, meskipun berbeda keyakinan agamanya dengan kita.
  • Selalu menghindari sikap egois, sombong, dan angkuh yang dapat membuat orang tersinggung, sehingga persatuan dan kesatuan sukar diwujudkan.

C. Membiasakan Perilaku Bertoleransi yang Terkandung dalam Surat Al Kahfi Ayat 29

وَقُلِ ٱلْحَقُّ مِن رَّبِّكُمْ ۖ فَمَن شَآءَ فَلْيُؤْمِن وَمَن شَآءَ فَلْيَكْفُرْ ۚ إِنَّآ أَعْتَدْنَا لِلظَّٰلِمِينَ نَارًا أَحَاطَ بِهِمْ سُرَادِقُهَا ۚ وَإِن يَسْتَغِيثُوا۟ يُغَاثُوا۟ بِمَآءٍ كَٱلْمُهْلِ يَشْوِى ٱلْوُجُوهَ ۚ بِئْسَ ٱلشَّرَابُ وَسَآءَتْ مُرْتَفَقًا

Arti Terjemahan:

Dan katakanlah (Muhammad): “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir. Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi yang orang zalim, yang gejolaknya mengepung merek. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.” (QS. Al Kahfi: 29)

Mengamalkan Surat Al Kahfi Ayat 29

Surat Al Kahfi termasuk golongan surat-surat Makkiyah, karena sebagian besar ayatnya diturunkan di Mekkah. Surat Kahfi terdiri dari 110 ayat. Dinamai Al Kahfi artinya gua, dan Ashabul Kahfi artinya para penguni gua. Kedua nama itu diambil dari kisah yang terdapat pada ayat 9 sampai 26 yang menceritakan beberapa orang pemuda yang tudur dalam gua bertahun-tahun lamanya, setelah mereka berlari dari kejaran penguasa yang zalim dan kejam di negaranya. Isi pokok surat Al Kahfi ayat 29 sebagai berikut:

  • Kebenaran itu datangnya dari Allah SWT, sedangkan yang salah datangnya dari selain Allah SWT.
  • Di dunia ini tidak semua orang beriman kepada Allah SWT, ada yang beriman dan ada yang enggan atau menolak beriman kepada Allah SWT.
  • Mereka enggan menerima Islam dan senantiasa memilih menjadi kafir sesuai dengan keyakinannya.
  • Islam memberi kebebasan (bersikap toleran) apakah hendaknya menjadi muslim atau memilih tetap menjadi kafir.

Diantara perilaku bertoleransi yang harus dibiasakan seorang muslim/muslimah sesuai surat Al Kahfi ayat 29, antara lain.

  • Bersikap teguh pendirian dalam menegakkan kebenaran, sesuai yang diajarkan agama Islam.
  • Bersikap demokratis dan jiwa besar dalam menghadapi perbedaan agama dan keyakinan.
  • Tidak memaksakan kehendak sendiri, termasuk memaksa orang lain agar memeluk agama Islam.
  • Selalu mempertebal keimanan agar tidak muda tergoda oleh pihak lain yang menginginkan kita keluar dari agama Islam.

Perbedaan merupakan sunatullah yang ditetapkan Allah bagi sekalian makhluk-Nya. Dengan perbedaan itulah kehidupan di muka bumi ini dapat berlangsung dengan dinamis dan interaktif. Sebagai seorang muslim yang baik, kita juga dihadapkan dengan perbedaan tersebut. Untuk itulah kita harus meneladani contoh Rasulullah bertoleransi dalam perbedaan yang ada.

Pada awal hijrah. Rasulullah hidup di Madinah bersama dengan para penyembah berhala, kaum Nasrani, dan orang-orang Yahudi. Dengan mereka semua Rasulullah menjalin pertemanan yang baik. Akan tetapi meskipun berteman baik, Rasulullah tidak terlarut dengan pergaulan tersebut. Rasulullah dengan teguh memegang ajaran Allah tanpa terkontaminasi sedikit pun.

Itulah teladan Rasulullah dalam bertoleransi. Bagaimana dengan kita? Dapatkah kita bertoleransi dengan orang lain? Jika dapat, apakah kita terlarut dalam toleransi tersebut?

Leave a Reply