Perbedaan Aqiqah dan Qurban

Tahukah kamu perbedaan dari Aqiqah dan Qurban? Aqiqah dan Qurban merupakan ibadah yang memiliki kesamaan, yaitu menyembelih hewan, tetapi secara tujuan aqiqah dan qurban berbeda. Perintah berkurban tentu sangat dianjurkan bagi umat muslim sebagai bentuk ketulusan dan mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Pada pembahasan kali ini mengenai pengertian aqiqah dan qurban serta dasar hukumnya dan dalam artikel ini akan dibahas secara lengkap.

Berapa banyak yang telah Allah Swt. karuniakan kepada kita? Allah Swt. mengaruniakan rezeki kepada seluruh makhluk ciptaan-Nya tanpa terkecuali. Sudah sepantasnya kita senantiasa bersyukur kepada Allah Swt. karena dia telah memberikan berbagai nikmat, maka di antaranya berupa sumber makanan bagi kita, baik yang berasal dari tumbuhan maupun hewan. Sebagai salah satu bentuk rasa syukur, sudah sepantasnya kita berbagi nikmat yang kita terima kepada orang orang yang lain yang lebih membutuhkan sebagai wujud kepedulian kita kepada sesama.

Pengertian Aqiqah dan Qurban

Aqiqah

Aqiqah adalah menyembelih hewan sebagai rasya syukur kepada Allah Swt. atas kelahiran bayi. Aqiqah juga diartikan sebagai bulu atau rambut yang tumbuh pada bayi.

Akikahan
Akikahan. Gambar dari flickr

Aqiqah biasanya dilaksanakan pada hari ketujuh, ke-14, atau ke-21 kelahiran bayi. Pada pelaksanaannya, bayi yang di Aqiqah diberi nama dan dicukur rambutnya.

Qurban

Sedangkan Kurban dalam bahasa Arab disebut udhhiyah atau dhahiyyah yang berarti hewan sembelihan. Ibadah kurban dalam ilmu fikih berarti penyembelihan hewan-hewan tertentu dengan maksud mendekatkan diri kepada Allah Swt. Pada Idul Adha atau hari Tasyrik, yaitu tanggal 11, 12, dan 13 Dzull hijah.

Dasar Hukum Aqiqah dan Qurban

1. Hukum Aqiqah

Akikah hukumnya sunah muakad bagi yang mampu dan wajib bila dinazarkan. Penyembelihan hewan ini sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran karena telah diberi amanah berupa anak. Anak yang sudah diakikahi kemudian di beri nama yang baik dan rambutnya dicukur.

Rasulullah saw. bersabda yang artinya: “Dari Samurah bahwasanya Nabi saw. beliau bersabda, “Setiap anak tergadai dengan aqiqahnya, yang disembelih untuknya pada hari ke-7, dicukur rambutnya, dan diberi nama.” (H.R. Ibnu Majah)

2. Hukum Qurban

Pelaksanaan kurban hukumnya sunah muakkad, sangat dianjurkan terutama bagi yang mampu. Hukum kurban menjadi wajib bila dinazarkan. Apabila ada orang yang telah mampu berkurban, tetapi tidak melaksanakannya, ia tercela dalam pandangan agama Islam.

Dari Abu Hurairah berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa yang mempunyai kemampuan tetapi ia tidak berkurban maka janganlah ia menghampiri tempat sembahyang kami.” (H.R.Ahmad).

Syariat kurban disandingkan dengan ibadah salat. Allah Swt. berfirman:

إِنَّآ أَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ

Artinya: Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

Artinya: Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).

إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ الْأَبْتَرُ

Artinya: Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).

(Q.S. Al-Kautsar [108]: 1-3)

Ketentuan Hewan Aqiqah dan Qurban

1. Ketentuan Hewan Aqiqah

Ketentuan Hewan Aqiqah

Mengenai jenis dan jumlah hewan yang disyariatkan untuk akikah adalah sebagaimana sabda Rasulullah saw. yang artinya: “Dari ‘Amir bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa berkehendak untuk mengaqiqahkan anaknya maka kerjakanlah. Untuk anak laki-laki dua ekor kambing yang sebanding dan untuk anak perempuan satu ekor kambing.” (H.R. Ahmad)

Dari hadis tersebut jelas bahwa jenis hewan yang dipakai untuk akikah adalah kambing, dan jumlah hewan akikah untuk laki-laki sebanyak dua ekor kambing, dan perempuan sebanyak satu ekor kambing. Kambing yang dipakai untuk akikah syarat-syaratnya sama dengan syarat hewan kurban, yaitu sehat, gemuk, cukup umur yaitu sudah memasuki satu tahun, dan tidak cacat.

2. Ketentuan Hewan Qurban

Ketentuan Hewan Kurban
Gambar dari flickr

Jenis hewan yang sah untuk kurban merupakan Jenis hewan ternak yang halal untuk dimakan dagingnya dan dipelihara. Binatang tersebut meliputi empat macam, yaitu kambing, domba, sapi, kerbau, dan unta dengan ketentuan sebagaimana sabda Rasulullah saw.

“Dari Jabir, Rasulullah saw. bersabda: Janganlah kamu menyembelih untuk kurban melainkan yang musinnah (telah berganti gigi) kecuali jika sukar didapat, maka boleh jaz’ah (yang baru berumur satu tahun lebih) dari kambing biri-biri.” (H.R. Muslim)

Dengan demikian, hewan-hewan kurban harus memenuhi syarat-syarat tertentu, antara lain sebagai berikut.

  • Domba (gibas) telah berumur satu tahun atau telah berganti giginya (musinnah).
  • Kambing telah berumur dua tahun lebih.
  • Sapi atau kerbau, telah berumur dua tahun lebih.
  • Unta, telah berumur lima tahun lebih.

Adapun syarat-syarat binatang-binatang tersebut, antara lain sehat, tidak berpenyakit, tidak cacat, seperti pincang, sangat kurus, terpotong telinganya, dan terpotong ekornya.

“Empat macam binatang yang tidak sah untuk dijadikan kurban, yaitu yang rusak matanya, yang sakit, yang pincang, dan yang kurus tidak berlemak.” (H.R. Ibnu Majah)

Hewan kurban yang akan kita sembelih harus sesuatu yang baik, misalnya dari cara memperolehnya, wujud hewan kurbannya, dan cara penggunaannya. Dengan demikian, ibadah kurban pun akan diterima oleh Allah swt.. Kurban berupa satu ekor domba atau kambing berlaku untuk satu orang. Kurban sapi atau kerbau untuk tujuh orang. Kurban unta boleh untuk tujuh atau sepuluh orang.

Waktu Penyembelihan Kurban

Penyembelihan hewan kurban dilakukan pada waktu tertentu dan tidak boleh dilakukan dengan cara sembarangan. Waktu penyembelihan hewan kurban yaitu pada tanggal 10 Zulhijjah dari setelah salat Idul Adha sampai tiga hari tasrik, yaitu pada tanggal 11, 12, dan 13 Zulhijjah. Dari Anas bin Malik berkata, Rasulullah saw. bersabda:

“Siapa yang menyembelih sebelum sembahyang ia hanya menyembelih untuk dirinya sendiri, siapa yang menyembelih setelah sembahyang maka pengurbanannya telah sempurna dan ia bertindak sesuai dengan sunah kaum muslimin.” (H.R. Bukhari)

Menyembelih hewan kurban diutamakan pada siang hari. Menyembelih kurban pada malam hari hukumnya makruh karena dikhawatirkan penyembelihannya kurang sempurna dan kesulitan dalam membagikan daging hewan kurban. Diutamakan, tempat penyembelihan hewan kurban adalah di dekat tempat salat Idul Adha di mana kita salat (misalnya lapangan atau masjid), sebab Rasulullah saw. berbuat demikian. tetapi tidak wajib, karena Rasulullah saw. juga mengizinkan penyembelihan di rumah sendiri.

Sebagian orang masih bingung antara aqiqah dan qurban mana yang didahulukan? Yuk simak penjelasannya dari Ustadz Buya Yahya pada video berikut.

Pembagian Daging Aqiqah dan Qurban

1. Pembagian Daging Aqiqah

Daging akikah disunahkan dibagikan keadaan telah dimasak. Penyembelih akikah boleh mengonsumsi sebagian dari daging akikah. Pembagian daging akikah boleh dibagikan secara langsung ke rumah-rumah fakir miskin. Boleh juga dilakukan dengan mengundang fakir miskin ke rumah untuk menikmati daging akikah yang sudah dimasak.

2. Pembagian Daging Qurban

Disunahkan bagi orang yang berkurban, untuk memakan daging kurban, dan menyedekahkannya kepada orang-orang fakir, dan menghadiahkan kepada karib kerabat. Orang yang berkurban boleh memakan sebagian daging kurbannya. Bagi yang menyembelih dan menghendaki daging kurbannya maka maksimal ia hanya bisa mengambil 1/3 bagian. Daging kurban dibagikan dalam keadaan masih mentah.

Hikmah Pelaksanaan Aqiqah dan Qurban

1. Hikmah Pelaksanaan Aqiqah

Pelaksanaan akikah mengandung hikmah baik yang melaksanakan akikah maupun yang menerima akikah. Hikmah pelaksanaan akikah yaitu sebagai berikut.

  • Perwujudan rasa syukur kepada Allah karena dikaruniai nikmat yang sangat besar berupa anak sebagai generasi penerus hidupnya.
  • Upaya mengajak anak untuk bertaqarub kepada Allah sejak masa-masa awal kehidupan di dunia.
  • Sebagai tebusan bagi anak sehingga syafaat kepada kedua orang tuanya pada akhir kelak diterima oleh Allah swt.
  • Memperkenalkan kepada masyarakat atas kelahiran anak sebagai usaha mengukuhkan tali persaudaraan di antara sesama.
  • Sarana yang potensial untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan berbagi sebagian rezeki kita dalam sajian daging akikah.

2. Hikmah Pelaksanaan Qurban

Selain memiliki fungsi dan manfaat yang besar, ibadah kurban juga akan mendatangkan hikmah. Hikmah pelaksanaan ibadah kurban antara lain sebagai berikut.

  • Menunjukkan bukti ketaatan seseorang kepada Allah swt..
  • Sebagai tanda rasa syukur atas rezeki yang telah diterima dari Allah swt..
  • Mencegah sikap tamak dan rakus.
  • Menunjukkan rasa belas kasih kepada sesama.
  • Menjembatani kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin.
  • Melatih semangat berkurban untuk kepentingan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam syariat aqiqah dan qurban dianjurkan bahwa mereka yang berkurban menyedekahkan sepertiga dari daging qurbannya kepada kaum fakir miskin, dan memberikan sebagian lagi kepada orang-orang yang dikehendakinya untuk membuat gembira hati hamba-hamba Allah swt..

Manfaat mempelajari tentang adanya ketentuan qurban dan aqiqah

Dengan demikian, mempelajari tentang adanya ketentuan qurban dan aqiqah mendorong timbulnya karakter peduli, taat, dan bertanggung jawab.

Leave a Reply