Badan Usaha: Pengertian, Bentuk, dan Jenisnya

Badan usaha didirikan dengan tujuan untuk memperoleh laba. Pendirian memerlukan sejumlah modal yang besar dari uang tunai, tanah, bahan baku, tenaga kerja, mesin produksi, sampai gedung kantor.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita menggunakan barang-barang, seperti sandal, sepatu, dan pakaian. Tanpa kita sadari dan pikirkan, pembuatan barang-barang tersebut memerlukan gedung perkantoran untuk membuat atau memproses barang-barang tersebut. Selain semua hal tersebut, hal terpenting yang harus diperhatikan adanya badan yang mengelola perusahaan-perusahaan tersebut. Badan tersebut bertanggung jawab atas kelancaran proses produksi dan proses pemasaran barang-barang tersebut. Badan yang dimaksud adalah badan usaha.

Baca juga: Peran dan Fungsi Badan Usaha

Pengertian Badan Usaha

Badan Usaha adalah

Pada pengertian sehari-sehari, sebagian orang menganggap bahwa antara badan usaha dengan perusahaan memiliki pengertian yang sama. Hal tersebut dapat dimaklumi karena kedua itu merupakan satu kesatuan dalam melaksanakan kegiatan. Namun, di antara keduanya terdapat perbedaan. Badan usaha adalah kesatuan yuridis dan ekonomis dari faktor-faktor produksi yang bertujuan mencari laba atau memberi layanan kepada masyarakat serta mempunyai bagian-bagian yang bekerja sama untuk mencapai tujuan tersebut.

Sedangkan perusahaan merupakan kesatuan teknis dalam produksi yang tujuannya menghasilkan barang dan jasa. Walaupun tujuannya berbeda, namun sebenarnya perusahaan merupakan bagian dari badan usaha yang tugasnya adalah menghasilkan barang dan jasa.

Berdasarkan pengertian badan usaha dan perusahaan tersebut, maka dapat dilihat perbedaan badan usaha dan perusahaan, dari segi pengertian, sifat, tujuan, dan bentuk. Perhatikan tabel berikut ini:

No. Perusahaan Badan Usaha
a. Merupakan kesatuan teknis yang menggunakan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan barang atau jasa Merupakan kesatuan yuridis (hukum) yang menggunakan faktor-faktor produksi untuk menghasilkan barang/jasa dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan atau laba
b. Kegiatan usahanya bersifat product oriented, yaitu berusaha untuk menghasilkan barang. Kegiatan usahanya bersifat profit oriented, yaitu berusaha untuk memperoleh laba.
c. Merupakan alat bagi badan usaha untuk mencapai tujuannya Merupakan kumpulan modal dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan
d. Berupa bengkel, pabrik, toko, dan lain-lain Berupa suatu lembaga yang berbentuk perusahaan perseorangan, firma, CV, PT, dan lain-lain

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam mendirikan badan usaha antara lain:

  • Jenis barang atau jasa yang akan dihasilkan,
  • Teknik pemasaran barang-barang hasil produksi,
  • Penetapan harga pokok dan harga jual barang,
  • Pengadaan bahan baku,
  • Jumlah kebutuhan akan tenaga kerja,
  • Pembelanjaan yang akan dilakukan,
  • Jenis atau bentuk badan usaha yang akan dipilih,
  • Susunan organisasi.

Pemilihan usaha yang akan dikelola oleh suatu usaha dapat dipilih dengan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut:

  • Bidang usaha yang akan dikelola,
  • Jangkauan pemasaran yang ingin dicapai,
  • Laba yang ingin diperoleh,
  • Modal yang dibutuhkan untuk memulai usaha,
  • Sistem pengawasan yang akan diterapkan,
  • Tingkat risiko yang akan dihadapi,
  • Batasan izin yang diberikan oleh pemerintah.

Faktor-faktor yang Memengaruhi Kegiatan Badan Usaha

Kegiatan badan usaha pada dasarnya mengelola sumber-sumber ekonomi yang ada di masyarakat dan perusahaan sebagai pelaksananya. Dalam proses pengelolaan sumber-sumber ekonomi tersebut, badan usaha dipengaruhi oleh faktor ekonomi dan faktor nonekonomi.

1. Faktor Ekonomi

Faktor ekonomi yang disebut juga sebagai faktor internal, merupakan faktor-faktor yang berada dalam kegiatan usaha dan berpengaruh langsung kepada hasil produksi. Faktor-faktor ini masih berada dalam jangkauan perusahaan, sehingga masih mudah untuk dikuasai (controllable).

Faktor-faktor yang termasuk dalam faktor ekonomi badan usaha meliputi:

  1. Tenaga kerja atau karyawan,
  2. Peralatan dan mesin-mesin,
  3. Modal,
  4. Bahan mentah, bahan penolong, barang setengah jadi, dan barang jadi,
  5. Sistem informasi, administrasi, dan pengambilan keputusan,
  6. Sumber-sumber ekonomi lainnya yang dipakai.

2. Faktor Nonekonomi

Faktor nonekonomi adalah faktor-faktor yang berada di luar lingkungan badan usaha, tetapi dapat memengaruhi hasil produksi. Oleh sebab itu, faktor nonekonomi disebut juga faktor eksternal. Faktor-faktor nonekonomi yang memengaruhi badan usaha meliputi:

  1. Tingkat sosial masyarakat,
  2. Hukum,
  3. Budaya,
  4. Politik.

Selain faktor-faktor nonekonomi di atas, terdapat faktor-faktor lain. Faktor tersebut, yaitu keadaan alam, keamanan, struktur perekonomian, kemajuan pendidikan dan teknologi, kependudukan, serta hubungan internasional.

Bentuk-Bentuk Badan Usaha

Badan usaha yang ada di Indonesia terdiri atas 3 bentuk, yaitu BUMN , BUMS, dan Koperasi.

1. Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

Jenis-jenis Badan Usaha Milik Negara
Badan Usaha Milik Negara, gambar dari flickr

Badan Usaha Milik Negara adalah badan usaha yang didirikan oleh negara atau pemerintah yang sebagian atau bahkan seluruh modalnya berasal dari kekayaan negara yang disisihkan. Pendirian BUMN berdasarkan Pasal 33 Ayat (2) dan (3) UUD 1945, yang di dalamnya disebutkan bahwa BUMN bertugas untuk mengelola dan mengusahakan cabang-cabang produksi dan kekayaan alam yang terkandung di dalam tanah air Indonesia untuk kesejahteraan dan kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Ciri-ciri Badan Usaha Milik Negara (BUMN)

  • Seluruh atau sebagian modalnya milik negara.
  • Pemerintah memiliki wewenang dan kekuasaan dalam menetapkan kebijakan.
  • Segala hak, kewajiban, dan tanggung jawab di tangan negara.
  • Sebagai sumber pemasukkan negara.
  • Melayani kepentingan umum, selain untuk memperoleh keuntungan.
  • Direksi bertanggung jawab penuh atas pengurusan BUMN dan mewakili BUMN, baik di dalam maupun di luar pengadilan.

Menurut Peraturan Pemerintah No.3 Tahun 1982, tujuan dan maksud pendirian BUMN adalah:

  • Memberikan sumbangan bagi perkembangan perekonomian negara pada umumnya dan pemerintah pada khususnya.
  • Berusaha menyediakan barang/jasa yang berkualitas dan memadai untuk memenuhi hajat hidup orang banyak.
  • Mengelola bidang-bidang usaha yang belum dapat dikelola oleh pihak swasta dan koperasi.
  • Berperan aktif dalam memberikan bimbingan kepada sektor swasta, khususnya golongan ekonomi lemah dan koperasi.
  • Berusaha memupuk keuntungan yang akan digunakan sebagai salah satu sumber dana pelaksanaan pembangunan nasional.

Sesuai dengan tujuannya, BUMN memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut:

  • Sebagai agen pembangunan yang bertugas untuk meningkatkan pembangunan ekonomi secara keseluruhan.
  • Melaksanakan pemerataan kemakmuran dan kesejahteraan.
  • Merupakan alat atau instrumen yang menjaga kestabilan harga barang dan jasa, terutama yang menguasai hajat hidup orang banyak.
  • Sebagai salah satu sarana untuk menghasilkan keuntungan atau laba.
  • Sebagai salah satu sarana untuk menghadapi perdagangan internasional, terutama menghadapi persaingan dalam dasar global.

Dalam menjalankan usahanya, BUMN menangani bidang-bidang usaha yang vital bagi kepentingan umum. Bidang usaha tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu;

  • Bidang usaha public utilities, yaitu BUMN yang bertujuan untuk melayani dan memenuhi kebutuhan masyarakat secara umum. Contoh: pos, listrik, dan transportasi.
  • Bidang usaha industri vital strategis dan bisnis, yaitu BUMN yang bertujuan mencari keuntungan maksimal guna mengisi kas negara. Contoh: industri minyak dan gas, serta industri baja dan otomotif.

Menurut Undang-Undang No. 9 Tahun 1969, BUMN terdiri dari tiga jenis, yaitu Perusahaan Jawatan (Perjan), Perusahaan Umum (Perum), dan Perusahaan Perseroan (PT Persero) .

Kemudian seiring dengan perkembangan perekonomian Indonesia, maka pada tahun 1988 tentang Bentuk-Bentuk BUMN. Berdasarkan Inpres tersebut, BUMN terbagi menjadi tiga jenis, tetapi untuk perjan sudah tidak ada lagi. Ketiga jenis BUMN menurut Inpres No. 5 Tahun 1988 adalah Perusahaan Umum, Perusahaan Perseroan, dan Perusahaan Daerah .

Selanjutnya menurut UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN hanya membagi BUMN menjadi dua jenis, yaitu Persero dan Perum .

1. Perushaan jawatan (Perjan)

Perusahaan jawatan adalah perusahaan negara yang seluruh modalnya termasuk dalam anggaran belanja negara yang menjadi hak departemen yang bersangkutan. Ciri-ciri Perusahaan jawatan yaitu sebagai berikut.

  • Dipimpin oleh kepala jawatan yang diangkat oleh pemerintah.
  • Pengawasan dilakukan secara langsung oleh pemerintah.
  • Pegawai berstatus pegawai negeri.
  • Bersifat public service, yaitu melayani kepentingan masyarakat.
  • Berstatus badan hukum publik.
  • Merupakan bagian dari suatu departemen.
  • Pemodalan berasal dari APBN yang dikelola oleh departemen yang membawahinya
  • Ruang lingkup bisnis secara umum public utility yang bersifat strategis dan vital.

Contoh Badan Usaha Milik Negara yang pernah berbentuk Perjan adalah Perjan Kereta Api.

2. Perushaan Umum (Perum)

Perusahaan umum adalah perusahaan negara yang bergerak dalam bidang usaha yang berkaitan dengan kepentingan umum. Modal Perusahaan umum berasal dari kekayaan negara yang terpisah dari APBN. Ciri-ciri Perusahaan Umum yaitu sebagai berikut.

  • Karyawan Perum berstatus sebagai karyawan perusahaan negara.
  • Berusaha memupuk keuntungan yang akan digunakan sebagai salah satu sumber keuangan negara.
  • Ruang lingkup usaha pada umumnya usaha penting berupa public service utility.
  • Melayani kepentingan umum.
  • Dalam melaksanakan tugasnya, direksi Perum bertanggung jawab kepada menteri.
  • Pengawasan terhadap pelaksanaan kegiatan perusahaan dilakukan oleh akuntan negara.
  • Modal perusahaan berasal dari kekayaan negara yang disisihkan, sehingga terpisah dari anggaran yang ada dalam APBN.
  • Berstatus badan hukum dan diatur berdasarkan undang-undang.

Contoh: Perum Damri, Perum Perhutani, Perum Balai Pustaka, dan Perum Pegadaian.

3. Perusahaan perseroan (PT Persero)

Contoh Badan Usaha Milik Negara yaitu PT Persero
Garuda Indonesia, gambar dari flickr

Perusahaan perseroan adalah perusahaan negara yang menghimpun modal dari penjualan saham, sebagian besar atau bahkan seluruh saham dimilki oleh negara. Ciri-ciri Perusahaan perseroan yaitu sebagai berikut.

  • Tidak memiliki fasilitas negara.
  • Karyawannya berstatus sebagai karyawan perusahaan swasta.
  • Berusaha memupuk keuntungan.
  • Bentuk badan usahanya berupa PT.
  • Sebagian atau seluruh modal perusahaan dimiliki oleh negara yang berasal dari kekayaan negara yang disisihkan.
  • Berstatus badan hukum perdata.
  • Dipimpin oleh direksi yang diangkat melalui RUPS.
  • Pengawasan dilakukan secara langsung oleh pemerintah melalui komisaris yang diangkat oleh RUPS.
  • Ruang lingkup usaha seperti perusahaan swasta.

Contoh: PT Garuda Indonesia Airlines, PT Pelni, PT Pertamina, dan PT PLN. Persero di Indonesia yang sudah menjadi persero terbuka antara lain PT Kimia Farma Tbk, PT Tambang Timah Tbk, PT Aneka Tambang Tbk, PT Telekomunikasi Indonesia Tbk.

4. Perusahaan daerah

Perusahaan daerah adalah perusahaan yang didirikan dan dimiliki oleh pemerintah daerah di mana pendiriannya berdasarkan pada peraturan daerah dengan sebagian atau seluruh modalnya milik pemerintah daerah. Perusahaan daerah dalam menjalankan usahanya dipimpin oleh kepala daerah, baik gubernur ataupun bupati. Adapun tugas direksi adalah.

  • Menentukan kebijakan dalam kepemimpinan perusahaan.
  • Mengurus dan menguasai kekayaan perusahaan daerah.
  • Mewakili perusahaan daerah di dalam dan di luar pengadilan.
  • Mengirim laporan hasil kegiatan perusahaan kepada kepala daerah.
  • Mengangkat dan memberhentikan pegawai perusahaan daerah sesuai dengan peraturan kepegawaian yang disetujui kepala daerah.

Contoh: Bank Pembangunan Daerah (BPD), Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), dan pasar.

BUMN memiliki kelebihan-kelebihan sebagai berikut:

  1. Seluruh keuntungan BUMN menjadi keuntungan negara.
  2. Menyediakan jasa-jasa bagi masyarakat.
  3. Merupakan sarana untuk melaksanakan pembangunan.
  4. Sebagai stabilisator perekonomian dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Selain itu BUMN juga memiliki kekurangan-kekurangan sebagai berikut:

  1. Pengelolaan BUMN secara ekonomi sulit untuk dipertanggung jawabkan.
  2. Pengelolaan BUMN sangat ditentukan oleh kemampuan keuangan negara.
  3. Sejumlah besar aturan (birokrasi) dapat menghambat pengembangan BUMN.
  4. Monopoli negara yang berlebihan akan mematikan usaha-usaha swasta.

2. Badan Usaha Milik Swasta (BUMS)

Jenis-jenis Badan Usaha Milik Swasta
gambar dari moztripcom

Badan Usaha Milik Swasta adalah badan usaha yang didirikan dan dimodali oleh seorang atau sekolompok orang dan mempunyai tujuan utama mencari laba. Pengelolaan badan usaha dan segala risiko yang terjadi berada dalam tanggung jawab pemilik atau pimpinan usaha. Bidang usaha yang dikelola oleh pihak swasta adalah sumber daya ekonomi yang bersifat tidak vital dan strategis atau yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak. BUMS digolongkan menjadi tiga kelompok, yaitu sebagai berikut.

1. Badan usaha swasta nasional

Merupakan badan usaha yang modalnya berasal dari dalam negeri dan dikelola oleh pihak swasta dalam negeri. Contohnya, PT Unilever Indonesia Tbk, PT Indosiar Tbk, PT Gudang Garam Tbk, dan PT Sido Muncul.

2. Badan usaha swasta asing

Merupakan badan usaha yang modalnya pun berasal dari luar negeri dan dikelola oleh pihak swasta asing. Contohnya, PT Freeport Indonesia, ABN AMRO, PT Coca Cola Tbk, dan Hawlet – Packkard Ltd.

3. Badan usaha swasta campuran

Merupakan badan usaha yang dikelola oleh swasta dalam negeri dan pihak swasta asing secara bersama-sama. Contohnya, Aqua Golden Mississippi, PT BCA Tbk, dan PT Telkomsel Tbk.

Dalam menjalankan usahanya BUMS memiliki 4 tujuan, yaitu:

  • Memperoleh keuntungan semaksimal mungkin.
  • Mengembangkan modal atau memperoleh bunga dari modal.
  • Memperluas usaha atau perusahaan yang ada.
  • Membuka lapangan kerja baru sekaligus mengurangi pengangguran.

Berdasarkan bentuk hukumnya, BUMS dikelompokkan menjadi 3, yaitu sebagai berikut.

1. Badan usaha perseorangan

Merupakan bentuk usaha yang didirikan, dimiliki, dikelola, dan dipertanggungjawabkan sendiri oleh satu orang. Seluruh modal yang dimasukkan ke dalam badan usaha beserta harta benda yang dimilki pemilik menjadi jaminan terhadap utang yang mungkin akan terbentuk. Ciri-ciri badan usaha perseorangan, yaitu sebagai berikut.

  • Pemilik sekaligus berperan sebagai pemimpin,
  • Pemilik bertanggung jawab penuh terhadap risiko yang akan dihadapi,
  • Tidak ada pemisahan antara harta pribadi dengan harta perusahaan,
  • Berkembangnya badan usaha sangat dipengaruhi oleh kepandaian, keterampilan, keuletan, dan daya kreasi dari pemilknya → (Baca juga: Pentingnya Mengembangkan Kreativitas).

Kelebihan badan usaha perseorangan antara lain:

  • Saat menghadapi masalah, pemilik dapat mengambil keputusan dengan cepat, karena tidak perlu meminta pertimbangan dari pihak lain,
  • Cara pendiriannya lebih mudah, karena tidak harus berbadan hukum,
  • Mudah dalam mengontrol kesalahan yang mungkin terjadi,
  • Pemilik bebas mengatur perusahaan sesuai dengan pandangannya,
  • Seluruh keuntungan dari hasil usahanya bisa sepenuhnya dinikmati sendiri,
  • Rahasia perusahaan lebih terjamin.

Adapun kelemahan perseorangan yaitu sebagai berikut.

  • Segala risiko dan tanggung jawab hanya ditanggung oleh satu orang,
  • Modalnya relatif kecil karena hanya bersumber dari satu orang,
  • Terbatasnya kemampuan yang dimilki oleh pemilik menyebabkan sulit berkembangnya perusahaan,
  • Kesinambungan usaha perusahaan kurang terjamin karena hanya dikelola oleh satu orang.

2. Firma (Fa)

Contoh Badan Usaha Milik Swasta yaitu Firma (Fa)
ilustrasi

Firma merupakan suatu bentuk badan usaha yang beranggotakan beberapa orang (minimal dua orang) yang menjalankan usaha dengan satu nama, dimana masing-masing anggota berperan aktif dalam kegiatan perusahaan dan bertanggung jawab penuh terhadap utang-utang firma dengan seluruh harta benda yang mereka milki. Kesepakatan untuk mendirikan firma harus dilakukan dihadapan notaris, yang kemudian akan dibuatkan akta pendirian yang merupakan bukti tertulis dari pendirian firma tersebut.

Dalam hal pembagian keuntungan dari usaha yang dijalankan, dilakukan pada besarnya modal yang ditanamkan dari masing-masing anggota. Apabila terdapat anggota firma yang tidak memberikan modal, tetapi ikut aktif mengelola perusahaan dengan ilmu dan keahlian yang dimilkinya, bagian keuntungan yang diperolehnya sama dengan bagian anggota firma yang modalnya paling kecil atau sedikit.

Kelebihan badan usaha firma antara lain:

  • Modal yang terhimpun lebih besar karena bersumber dari beberapa orang.
  • Risiko yang mungkin terjadi tidak hanya ditanggung oleh satu orang, tetapi ditanggung oleh beberapa orang, sehingga terasa lebih ringan.
  • Kelangsungan hidup dari usahanya lebih terjamin, karena tidak bergantung pada satu orang,
  • Dapat melakukan pembagian kerja dalam kepemimpinan perusahaan yang disesuaikan dengan kecakapan, keahlian, dan keterampilan dari masing-masing anggota.

Adapun kelemahan firma adalah:

  • Adanya perbedaan pendapat antara anggota bisa menimbulkan perselisihan yang dapat mempersulit dalam pengambilan keputusan yang disebabkan tidak adanya kata sepakat dari seluruh anggota,
  • Karena tanggung jawab yang tidak terbatas dan tidak adanya pembagian harta pribadi dengan harta perusahaan, maka jika terjadi kerugian yang cukup besar bisa mengakibatkan seluruh anggota menjadi bangkrut,
  • Kerugian yang disebabkan kesalahan seorang anggota harus ditanggung juga oleh anggota lain.

3. Commanditer Vennotschaap (CV)

Persekutuan komanditer adalah persekutuan yang didirikan oleh satu atau beberapa orang yang mempercayakan barang atau uang kepada satu atau beberapa orang yang menjalankan perusahaan dan bertindak sebagai pemimpin. Dari pengertian tersebut, terlihat bahwa ada dua kelompok anggota dalam persekutuan komanditer, yaitu sekutu aktif (sekutu komplementer) dan sekutu pasif (sekutu komanditer).

Dalam menjalankan usahanya, sekutu aktif berperan sebagai pemilik sekaligus pengelola dan bertanggung jawab penuh atas risiko yang mungkin akan terjadi. Sedangkan sekutu pasif hanya berperan sebagai penanam modal yang ikut mengelola badan usaha, namun tetap akan memperoleh pembagian keuntungan usaha. Jika badan usaha tersebut mengalami kerugian, maka tanggung jawab terhadap kerugian tersebut hanya sebesar modal yang ditanamkannya. Pendirian CV harus dilengkapi dengan akta notaris, dengan mencantumkan nama CV, alamat CV, besarnya modal yang dimiliki.

Berikut ini kelebihan persekutuan komanditer/commanditer vennotschaap adalah:

  • Mudah untuk memperoleh kredit terutama dari bank,
  • Modal yang dikumpulkan lebih besar daripada perusahaan perseorangan,
  • Proses pendiriannya mudah,
  • Mudah mencari tambahan modal pada anggota sekutu,
  • Kepemimpinan perusahaan tetap di tangan persero aktif dan tidak dicampuri oleh orang lain.

Adapun kelemahan persekutuan komanditer/commanditer vennotschaap adalah:

  • Adanya tanggung jawab yang tidak terbatas bagi sekutu aktif, sementara sekutu pasif tanggung jawabnya terbatas, sehingga dirasakan kurang adil,
  • Kelangsungan hidup CV bisa terganggu, karena sekutu pasif tidak ikut memikirkan jalannya CV,
  • Adanya kesulitan bagi sekutu pasif untuk menarik kembali modal yang sudah diserahkan atau ditanamkan,
  • Sering menimbulkan kecurigaan pada persero pasif karena tidak mengetahui perkembangan dan untung ruginya perusahaan.

4. Perseroan terbatas (PT)

Perseroan Terbatas (PT), atau yang disebut juga NV/Naamloze Vennootschap, adalah badan usaha yang berupa persekutuan antara dua orang atau lebih yang modalnya diperoleh dengan cara menjual saham kepada para anggotanya. Adapun yang dimaksud dengan saham adalah surat berharga tanda turut serta menjadi pemilik perusahaan. Pemegang saham/sero (persero) ikut memiliki perusahaan, sehingga bertanggung jawab atas utang-utang perusahaan. Tanggung jawab persero terbatas, yaitu sebesar sero yang dipegangnya. Artinya, persero hanya bertanggung jawab sebesar modal yang ditanamnya.

Untuk mendapatkan status badan hukum, sebuah PT harus didirikan berdasarkan akta notaris yang mengajukan permohonan kepada departemen kehakiman melalui Pengadilan Negeri setempat. Selain itu, PT juga harus terdaftar pada pengadilan negeri dan diumumkan dalam berita negara (lembaran negara). Di dalam akta pendirian, harus tercantum hal-hal, antara lain nama perseroan, tempat kedudukan perseroan, tujuan perseroan, jumlah modal yang dimiliki termasuk harga saham per lembarnya, dan anggaran dasar perseroan .

Modal usaha PT terbagi atas beberapa saham. Setiap sekutu atau persero akan menentukan besarnya dividen yang diterima. Di samping itu, jumlah saham yang dimiliki oleh masing-masing persero juga akan menentukan banyaknya suara dalam RUPS, terutama jika terjadi pengambilan keputusan yang dilakukan dengan perhitungan suara. Sedangkan bagi para pendiri, ada ketentuan tersendiri mengenai penyertaan modal, yaitu ditentukan paling sedikit 20% dari jumlah modal keseluruhan. Dari jumlah tersebut, sebesar 10% harus sudah disetorkan, sedangkan sisanya dapat diangsur.

Kelebihan PT, yaitu:

  • Modal dapat terhimpun dengan lebih mudah,
  • Adanya pemisahan antara pemilik dengan pengurus,
  • Tanggung jawab para pemilik terbatas pada besarnya saham yang dimiliki,
  • Persero bisa sewaktu-waktu memindahkan atau mengalihkan modalnya kepada orang lain,
  • Kelangsungan perusahaan lebih terjamin, karena tidak hanya tergantung pada satu orang,
  • Kepemimpinan perusahaan dapat dilakukan dengan lebih efisien, karena dapat dilakukan oleh beberapa orang sesuai keahlian masing-masing.

Adapun kelemahan PT, yaitu:

  • Biaya pendiriannya terlalu besar,
  • Proses pendiriannya membutuhkan waktu yang relatif panjang,
  • Pembebanan pajak terlalu tinggi,
  • Biaya organisasi yang harus dikeluarkan cukup besar, karena harus membayar gaji terhadap direksi dan komisaris,
  • Rahasia badan usaha kurang terjamin,
  • Untuk memimpin PT relatif lebih sulit, jika dibanding dengan badan usaha yang lain.

Secara umum PT dibedakan menjadi tiga, yaitu:

  1. PT tertutup, yaitu PT yang pesero-peseronya terbatas pada orang-orang tertentu. Jadi tidak sembarang orang menjadi pesero. Pesero-peseronya biasanya terbatas pada lingkungan keluarga sendiri. Saham pada perusahaan dibuat atas nama dan tidak dipasarkan di bursa saham.
  2. PT kosong, yaitu PT yang badan usahanya masih ada, tetapi perusahaannya sudah tidak ada lagi. Orang yang membeli PT kosong biasanya bermaksud menghemat waktu dan biaya. Pembeli PT kosong dapat segera menjalankan usahanya tanpa harus mengurus lagi perizinannya.
  3. PT terbuka, yaitu PT yang menjual sahamnya kepada publik melalui go public (pasar modal). Jadi sahamnya ditawarkan kepada umum, diperjualbelikan kepada bursa saham dan setiap orang berhak untuk membeli saham perusahaan tersebut. Saham dalam PT terbuka dibuat atas tunjuk (atas pembawa) dan dapat diperjualbelikan secara bebas.

3. Koperasi

Koperasi

Menurut Undang-Undang No. 25 Tahun 1992, pengertian koperasi adalah badan usaha yang terdiri dari perorangan atau badan hukum koperasi dengan mendasarkan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi serta gerakan ekonomi yang berdasarkan prinsip asas kekeluargaan.

Koperasi merupakan badan usaha yang berbadan hukum dan memiliki unsur-unsur hukum, yaitu koperasi mempunyai organisasi yang teratur, memilki harta kekayaan sendiri, melakukan hubungan hukum sendiri yang diwakili oleh pengurus, dan mempunyai tujuan sendiri.

Menurut pasal 3 Undang-Undang No. 25 Tahun 1992, tujuan koperasi yaitu:

  • Memajukan kesejahteraan anggota pada khususnya,
  • Menyejahterakan dan mencapai kemakmuran masyarakat pada umumnya,
  • Ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur yang berlandaskan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Menurut pasal 5 Undang-Undang No. 25 Tahun 1992, prinsip koperasi yaitu:

  • Keanggotaan koperasi bersifat terbuka dan sukarela, terbuka maksudnya keanggotaan koperasi terbuka bagi setiap WNI, sedangkan sukarela maksudnya untuk menjadi anggota koperasi tidak ada unsur paksaan.
  • Pengelolaan koperasi dilaksanakan secara demokratis.
  • Pembagian SHU dilakukan secara adil berdasarkan jasa dari masing-masing anggota.
  • Kemandirian, artinya dalam melaksanakan usahanya, koperasi tidak bergantung pada pihak lain, melainkan lebih mengandalkan pada kemampuan sendiri.
  • Pemberian balas jasa terbatas sesuai besarnya modal.

Pemodalan koperasi terdiri dari modal sendiri, modal pinjaman, dan modal penyertaan.

  1. Modal sendiri, yaitu modal yang berasal dari para anggota dengan berdasarkan pada ketentuan koperasi. Modal sendiri meliputi simpanan pokok, simpanan wajib, simpanan sukarela, dana cadangan, hibah.
  2. Modal pinjaman, yaitu modal yang berasal dari pinjaman, baik dari anggota maupun dari luar anggota, misalnya dari koperasi lain, bank, ataupun sumber-sumber lain yang sah.
  3. Modal penyertaan, yaitu modal yang berasal dari penanaman modal pemerintah ataupun swasta bukan anggota.

Berdasarkan bidang usaha yang ditangani, koperasi dibedakan menjadi enam, yaitu:

1. Koperasi simpan pinjam

Yaitu koperasi yang berusaha menghimpun dana dari para anggota melalui pembayaran simpanan, kemudian dana tersebut akan disalurkan kepada anggota yang membutuhkan dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidup dari para anggotanya dan masyarakat.

2. Koperasi jasa

Yaitu koperasi yang usahanya menyediakan pelayanan atau jasa bagi para anggota.

3. Koperasi serba usaha

Yaitu koperasi yang mengelola berbagai macam bidang usaha mulai dari bidang konsumsi, produksi, simpan pinjam, maupun jasa. Misalnya, KUD (Koperasi Unit Desa).

4. Koperasi konsumsi

Yaitu koperasi yang kegiatan usahanya bertujuan untuk membantu anggota dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Salah satu usahanya adalah dengan membuka toko yang menyediakan barang-barang kebutuhan pokok → (Baca juga : Kebutuhan Hidup Manusia).

5. Koperasi produksi

Yaitu koperasi yang beranggotakan para produsen dengan hasil produksi yang sama. Tujuan didirikannya koperasi produksi antara lain membantu anggota untuk mendapatkan bahan baku dengan mudah dan murah.

6. Koperasi pemasaran

Yaitu koperasi yang didirikan dengan tujuan membantu dalam pemasaran barang-barang hasil produksi dari para anggota.

Sebagaimana bentuk badan usaha yang lain, koperasi juga memiliki kelebihan, yaitu sebagai berikut.

  • Kesejahteraan anggota menjadi tujuan utama dalam usaha koperasi,
  • Setiap anggota memperoleh pelayanan yang sama, tanpa membedakan status dari masing-masing anggota,
  • Sifat keanggotaan koperasi sukarela dan terbuka, sehingga memudahkan bagi siapapun yang berniat untuk masuk menjadi anggota,
  • Besarnya simpanan dalam koperasi, terutama untuk simpanan pokok dan simpanan wajib, ditetapkan atas kesepakatan bersama,
  • Setiap anggota memperoleh perlakuan yang sama,
  • Pembagian SHU dengan berdasarkan pada jasa dari masing-masing anggota dalam bentuk apa pun, sehingga tidak hanya berdasarkan pada besarnya modal yang diserahkan,
  • Tanggung jawab anggota terbatas pada besarnya modal yang diserahkan.

Adapun kelemahan koperasi, yaitu sebagai berikut.

  • Dengan adanya perlakuan yang sama, adakalanya menyebabkan kurangnya kesadaran dari sebagian anggota untuk ikut berperan dalam memajukan usaha koperasi,
  • Adakalanya koperasi sulit untuk memilih pengurus yang benar-benar profesional, karena kurangnya pengetahuan tentang pengoperasian dari masing-masing anggota,
  • Daya saing dari koperasi relatif lebih rendah jika dibandingkan dengan badan usaha yang lain.

Setelah mengetahui definisi dan bentuk serta jenis-jenis badan usaha, seorang wirausahawan memiliki gagasan tentang entitas bisnis apa yang didirikan. Demikian pembahasan mengenai Pengertian, Bentuk, dan Jenis Badan Usaha, semoga bermanfaat.

Leave a Reply