Mengenal 3 Hukum Dasar Kimia: Lavoisier, Proust, Dalton

Jika mempelajari perhitungan dan hukum dasar kimia, terdapat suatu konsep yang menghubungkan suatu satuan dengan satuan kimia yang lain, yang disebut konsep mol. Sebelum ke penjelasan pada hukum-hukum dasar kimia, ada baiknya kita mengetahui arti dari Mol pada kimia. Mol adalah satuan yang digunakan untuk menyatakan jumlah partikel suatu zat → (Baca juga: Konsep Zat).

Konsep mol membantu dan mempermudah kita dalam melakukan perhitungan kimia dan penentuan rumus kimia zat. Konsep mol, penentuan rumus kimia, dan perhitungan kimia didasarkan pada hukum-hukum dasar kimia, yaitu hukum kekekalan massa, hukum perbandingan tetap, hukum perbandingan berganda, hukum penggabungan volume, dan hipotesis Avogadro.

3 Hukum Dasar Kimia

3 Hukum Dasar Kimia

Sebenarnya ada 5 hukum dasar kimia, tetapi yang akan kita bahas disini yaitu 3 saja. Hukum kekekalan masa = hukum lavoisier, hukum perbandingan tetap (hukum proust), hukum perbandingan berganda (hukum dalton).

1. Hukum Kekekalan Massa = Hukum Lavoisier

Hukum Kekekalan Massa

Lavoisier membuat kerangka dasar kimia berdasarkan hasil penelitian kimiawan sebelumnya, seperti Joseph Black, Hanry Cavendish, Joseph Pristley, dan George Ernst Scheele. Pada saat itu, massa zat setelah pembakaran lebih sedikit daripada sebelumnya membuat para ilmuwan mempercayai bahwa reaksi pembakaran menghasilkan gas phlogiston.

Teori Phlogiston melibatkan sutau unsur. Logam dan api dianggap kaya akan phlogiston sedangkan oksigen dan bumi dianggap miskin phlogiston. Hal ini didasarkan pada percobaan yang dilakukan Priestley. Pristley memanaskan oksida raksa (red calx mercury). Reaksi pemanasan padatan oksida raksa menghasilkan gas dan air raksa tak berwarna di atasnya. Setelah ditimbang, massa air raksa kurang daripada massa oksida raksa. Pristley menyebut phlogiston yaitu gas tak berwarna.

Percobaan dan penelitian yang dilakukan Lavoisier meragukan keberadaan gas phlogiston. Menurut dugaannya, yang dimaksud dengan phlogiston adalah oksigen.

Pada tahun 1777, Lavoisier mengulang percobaan Priestley untuk membuktikan dugaannya. Lavoisier menimbang massa zat sebelum dan setelah reaksi pemanasan oksida raksa secara teliti dengan menggunakan timbangan yang peka. Hasilnya, terjadi pengurangan massa oksida raksa. Menurut Lavoisier, ketika dipanaskan, oksida raksa menghasilkan gas oksigen sehingga massanya akan berkurang.

Lavoisier juga membuktikan kebalikannya. Jika sebuah logam dipanaskan di udara, massanya akan bertambah sesuai dengan jumlah oksigen yang diambil dari udara. Kesimpulan Lavoisier ini dikenal dengan nama Hukum Kekekalan Massa yang menyatakan “Jumlah massa zat sebelum dan sesudah reaksi sama”. Dengan penemuan ini, teori phlogiston yang dipercayai para ilmuwan kimia selama kurang lebih 100 tahun akhirnya tumbang.

2. Hukum Perbandingan Tetap (Hukum Proust)

Pada tahun 1799, seorang ahli kimia Prancis, yang bernama Joseph Louis Proust (1754 – 1826) mencoba menggabungkan hidrogen dan oksigen untuk membentuk air. Salah satu sifat yang membedakan senyawa dan campuran adalah senyawa memiliki susunan yang tetap.

Hasil penelitian dan percobaan Joseph Louis Proust kini dikenal sebagai Hukum Perbandingan Tetap atau Hukum Proust, yang menyatakan “perbandingan massa unsur-unsur dalam senyawa adalah selalu tetap walaupun berasal dari daerah yang berbeda dan dibentuk dengan cara yang berbeda”.

3. Hukum Perbandingan Berganda (Hukum Dalton)

Hukum Perbandingan Berganda

Pada abad ke-19 John Dalton (1766 – 1844) mengamati dua senyawa berbeda yang tersusun dari unsur yang sama, yaitu CO (karbon monoksida) dan CO2 (karbon dioksida). Menurut Dalton, apabila massa karbon (C) dalam CO dan CO2 sama, massa oksigen (O) dalam CO dan CO2 mempunyai perbandingan 1 : 2 (perbandingan merupakan bilangan bulat dan sederhana).

Dalam kimia, hukum perbandingan berganda merupakan salah satu hukum dasar stoikiometri. Hukum ini diambil dari nama kimiawan Inggris John Dalton dan maka dari itu kadang-kadang disebut Hukum Dalton. Akan tetapi Hukum Dalton merujuk pada hukum tekanan parsial.

Hukum ini menyatakan bahwa dua elemen yang bereaksi membentuk dua atau lebih senyawa maka perbandingan berat salah satu elemen yang bereaksi dengan berat tertentu dari elemen lain, kedua senyawa tersebut selalu merupakan perbandingan bilangan bulat sederhana. Misalnya karbon bereaksi membentuk karbon dioksida (CO2) dan karbon monoksida (CO).

Jika jumlah karbon yang bereaksi pada masing-masing adalah 1 gram, dapat diamati bahwa pada karbon monoksida yang terbentuk sejumlah 1,33 gram oksigen dan 2,67 gram oksigen pada karbon dioksida.

Perbandingan massa oksigen mendekati 2 : 1 yang merupakan perbandingan bilangan bulat sederhana, mematuhi hukum perbandingan berganda. Pengamatan serupa juga terjadi pada reaksi-reaksi lain, seperti hidrogen dan oksigen membentuk air (H2O) dan hidrogen peroksida (H2O2). Jika hidrogen yang bereaksi masing-masing 1 gram, H2O yang terbentuk akan mengandung 4 gram oksigen, 8 gram pada H2O2.

Pada 1803, John Dalton pertama kali mengemukakan pengamatan ini. Beberapa tahun sebelumnya, Joseph Proust mengedepankan Hukum Perbandingan Tetap. Dalton merumuskan hukum ini berdasarkan pengamatan terhadap nilai komparatif Proust. Kedua hukum ini merupakan penemuan penting untuk menjelaskan pembentukan senyawa dari atom-atom. Pada tahun yang sama, Dalton mengusulkan teori atom yang merupakan dasar dari konsep formula kimia dalam senyawa.

Dalam hidup kita harus mensyukuri anugerah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kelimpahan materi yang ada di dunia alam semesta diberikan secara gratis sehingga kita harus menjaganya agar tetap seimbang dan tidak dihabiskan dalam waktu singkat. Semoga dengan adanya materi hukum dasar kimia yang ada di website ini dapat membantu kamu dalam memahami dan memudahkan tugasmu disekolah.

Leave a Reply