Perkembangan Islam di Indonesia

Tahukah kamu bagaimana proses perkembangan Islam di Indonesia, untuk itu, simak penjelasannya! Sejarah membuktikan bahwa pedagang berperan penting dalam pernyebaran agama dan kebudayaan Islam. Lokasi Indonesia yang strategis menyebabkan munculnya bandar-bandar perdagangan yang turut membantu mempercepat persebaran tersebut. Di samping itu, cara lain yang turut berperan ialah melalui dakwah yang dilakukan para mubaligh.

Islam masuk di Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara damai dam persuasif berkat kegigihan para ulama.

Islam telah dikenal di Indonesia pada abad pertama Hijaiyah atau 7 Masehi, meskipun dalam frekuensi tidak terlalu besar hanya melalui perdagangan dengan pedagang muslim yang berlayar ke Indonesia untuk singgah, untuk beberapa waktu. Pengenalan Islam semakin intensif, terutama di Nusantara dan Semenanjung Melayu, yang berlangsung beberapa abad kemudian.

Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia

Sebelum Islam datang, penduduk wilayah Nusantara telah menganut berbagai kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Budhisme, dan Hinduisme. Pengaruh dari kepercayaan tersebut sangatlah kelihatan seperti adanya bangunan candi baik Budha maupun candi Hindu. Kebudayaan pun berkembang seiring dengan lajunya perkembangan agama Budha dan agama Hindu.

Kemudian datanglah agama Islam sekitar abad ke-7 M yang membawa nuansa baru adanya kepercayaan penduduk wilayah Nusantara. Berikut ini proses perkembangan Islam di Indonesia.

Agama Islam masuk ke Indonesia sekitar abad ke-7 M, langsung dari tanah Arab dan dibawa oleh para saudagar muslim melalui jalur perdagangan, (Baca juga: Perdagangan Internasional).

Pada mulanya, para saudagar datang ke tanah air itu bukan orang-orang yang ahli agama. Namun setelah banyak penganutnya, para saudagar itu sengaja mendatangkan para da’i dan ulama ke bumi Indonesia untuk melakukan dakwah Islamiyah.

Wilayah Nusantara yang pertama kali disinggahi ajaran Islam adalah Barus dan Pasai, yang kemudian menjadi sebuah kerajaan Islam pada tahun 1205 M/601 H dengan raja pertamanya bernama Sultan Johan syah. Dari tanah Melayu itulah, kemudian Islam berkembang ke seluruh penjuru Nusantara. Jalur perkembangan Islam di Indonesia, seiring dengan perjalanan dakwah para mubaligh muslim yang menyebarkan agama tersebut. Wilayah-wilayah yang mereka singgahi pertama kali antara lain.

  1. Pariaman di Sumatera Barat, mubaligh pertamanya ialah Syaikh Burhanudin seorang ulama etnis Melayu.
  2. Gresik dan Tuban di Jawa Timur, mubaligh pertamanya Maulana Malik Ibrahim, seorang mubaligh dan saudagar kaya dari Hadramaut, Yaman.
  3. Demak di Jawa Tengah, mubaligh pertamanya ialah Raden Fatah, seorang saudagar dan mubaligh muslim.
  4. Banten dan Jawa Barat, mubaligh pertamanya bernama Fatahillah seorang keturunan raja Pasai yang merantau ke Pulau Jawa.
  5. Palembang di Sumatera Selatan, mubaligh pertamanya bernama Raden Rahmat, seorang mubaligh asal Jawa Timur yang kebetulan singgah di daerah tersebut.
  6. Banjar di Kalimantan Selatan dan Sukadana di Kalimantan Barat, mubaligh pertama yang datang ke wilayah itu adalah para ulama yang berasal dari Johor, Malaysia.
  7. Makassar di Sulawesi Selatan, mubaligh pertamanya bernama Dato’Ri Bandang seorang ulama dari Sumatera Barat.
  8. Ternate, Tidore, Bacau, Jaulolo di kepulauan Maluku Utara, mubaligh pertama yang singgah di wilayah-wilayah tersebut adalah Syaikh Mansur dari Arab, dan Maulana Husain dari Gresik, Jawa Timur.
  9. Sorong di Papua/Irian Jaya, para mubaligh yang datang ke wilayah itu berasal dari Jawa, Makassar, dan Kalimantan Barat.

Dari wilayah-wilayah itulah, Islam kemudian berkembang ke seluruh Nusantara dari Sabang sampai Merauke. Agama Islam masuk ke Indonesia, disebarkan dengan cara damai. Artinya sebagian besar bangsa Indonesia memeluk agama Islam dengan kesadarannya sendiri, tanpa paksaan dari siapa pun. Ajaran Islam tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia. Oleh sebab itu, semua upaya untuk memisahkan bangsa Indonesia dari ajaran agama Islam selalu gagal sebagaimana yang telah dilakukan oleh penjajah Belanda.

Ajaran Islam dapat berkembang subur di Indonesia berkat peranan para ulama dan mubaligh muslim sejak dulu sampai saat ini. Oleh karena itu, ajaran Islam semakin berkembang dari waktu ke waktu. Hal ini dibuktikan bahwa saat ini penduduk di Indonesia diperkirakan berjumlah 210 juta, 80%-nya adalah umat Islam.

Masyarakat muslim Indonesia juga tampak memegang teguh aqidah dan keyakinannya, sehingga mereka tidak mau melepaskan atau meninggalkan agamanya tersebut. Pada mulanya (sekitar abad ke-7 sampai abad ke-12 M) ajaran Islam yang berkembang di Indonesia berupa ajaran aqidah Islamiyah, yang bertujuan menanamkan jiwa tauhid.

Setelah mengalami perkembangan (sekitar abad ke-13 sampai abad ke-15 M) baik dari segi jumlah penganut maupun dari segi pengalaman ajarannya, maka dakwah Islam dikembangkan dengan mengajarkan tata cara ibadah dan pengabdian kepada Allah SWT. Artinya, ajaran Islam yang berkembang pada masa itu, sudah mencakup ajaran ilmu-ilmu fiqih yang berkaitan dengan keimanan keislaman (Islam). Kemudian menjelang abad ke-16 sampai abad ke-19 M. Ajaran Islam berkembang lebih pesat lagi, yakni telah mencapai titik penghayatan dan pengalaman yang serius terhadap keseluruhan ajaran Islam (Ihsan). Islam diajarkan, secara kaffah/sempurna.

1. Perkembangan Ilmu Pengetahuan

Sebelum datangnya para penjajah, baik Portugis, Belanda, maupun Jepang, bangsa Indonesia sebenarnya telah mengalami kemajuan di bidang ilmu pengetahuan, terutama ilmu pengetahuan agama Islam, seperti ilmu fiqih, tafsir, akhlak dan tauhid, serta ilmu tasawuf.

Banyak para pelajar dan santri Indonesia yang menuntut ilmu agama Islam

Banyak para pelajar dan santri Indonesia yang sengaja menuntut ilmu di Timur Tengah, khususnya di Makkah dan Mesir. Selain itu, para jamaah haji asal Indonesia juga, tidak ketinggalan mereka menyempatkan diri sambil melaksanakan ibadah haji juga ikut belajar dan berguru kepada beberapa syaikh dan ulama di kota suci tersebut.

Pada masa itu, banyak para ulama Indonesia yang terkenal, baik di manca negara maupun di Indonesia sendiri. Misalnya, Syaikh Hamzah Fansyuri, Syaikh Syamsudin As-Sumatrani, Syaikh Nurudin ar Raniri, Abdus Shamad Al Falimbani, Abdurauf As-Singkel, Syaikh Nawawi Al Bantani, Syaikh Yusuf Al Maqassari, dan Syaikh Ahmad Khatib Syambas. Mereka telah banyak melahirkan karya-karya ilmiah, sesuai dengan keahliannya masing-masing. Karya-karya mereka tersebar luas di wilayah Nusantara, bahkan dikenal di manca negara.

Setelah memasuki era kemerdekaan, para ulama ikut mengembangkan ilmu-lmu keislaman. Misalnya dengan mendirikan berbagai lembaga pendidikan agama Islam, juga pondok pesantren. Bahkan umat Islam bersama-sama pemerintah membentuk Departemen Agama Republik Indonesia. Di bawah naungan Departemen Agama itulah, lembaga-lembaga pendidikan Islam dikembangkan dari tingkat dasar, menengah, sampai perguruan tinggi.

Berdirinya Bank Muamalat merupakan suatu prestasi tersendiri bagi umat Islam, bahkan Asuransi At-Takaful, yang notabene sebagai asuransi Islam juga termasuk dari salah satu bentuk kemajuan ilmu pengetahuan bidang Islam juga termasuk dari salah satu bentuk kemajuan ilmu pengetahuan bidang keuangan. Begitu pula dengan bank-bank syari’ah yang belakangan ini semakin marak.

Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan yang telah dicapai umat Islam Indonesia dengan segala kekurangan dan kelebihannya sangat membanggakan dan ke depan, tentunya diharapkan dapat lebih berkembang lagi, bahkan lebih maju. Tentu saja, semua itu tidak lepas dari para pemuda sebagai generasi penerus perjuangan umat Islam Indonesia.

Para pemuda sebagai generasi penerus perjuangan umat Islam Indonesia

2. Perkembangan Seni Budaya

Perkembangan seni budaya Islam juga mengalami kemajuan yang cukup berarti, terutama seni bangunan, arsitektur, seni rupa, dan seni pahat. Kita banyak menjumpai berbagai peninggalan seni budaya umat Islam Indonesia di masa lalu, terutama seni bangunan dan arsitektur. Misalnya yang terdapat pada bangunan-bangunan masjid-masjid dan bangunan keraton bekas istana kerajaan.

a. Seni Kaligrafi

Seni kaligrafi yaitu seni hias yang menggunakan tulisan Arab. Jenis seni ini banyak digunakan untuk menghias dinding-dinding masjid, mushola, gedung keraton, dan sebagainya, bahkan digunakan dalam menghias benda-benda kerajinan tangan dari keramik, tembikar, dan sebagainya.

b. Seni Tari

Seni tari, yaitu seni mengolah gerak tubuh. Banyak tari-tarian tradisional di Indonesia yang bernafas Islam, seperti tari Japin lembut dari Kalimantan, tari Seudati dan Saman dari Aceh, tari Emprak, Baduwi, Kobrasiswo, Ndolalak, Bangunsiswo, dan yang lainnya.

c. Seni Wayang

Seperti diketahui bahwa seni pewayangan berasal dari cerita Ramayana dan Mahabharata. Namun kemudian diberi corak Islam oleh para Wali Songo (para mubaligh muslim dari Pulau Jawa). Misalnya lima tokoh wayang Pandewo Limo, dikaitkan dengan rukun Islam yang jumlahnya lima.

Karakter tokoh Pandewo Limo itu sendiri merupakan simbol visual dari ajaran Islam. Seperti tokoh Yudistira sebagai anggota tertua dari Pandewo Limo, selalu memakai kain sarung yang berisi jimat Kalimasada. Kalimasada artinya kalimat syahadat yang wajib diucapkan oleh setiap muslim dan begitu seterusnya, semua alur cerita dalam seni wayang diubah dengan alur cerita yang bernapaskan Islam.

d. Seni Suara

Pengaruh ajaran Islam terhadap seni suara ini terasa sangat kental. Sejak dulu kita sudah mengenal adanya kesenian Samroh dan Qassidah. Syair dan lagu yang dibawakan seni ini selalu bernapaskan ajaran Islam, seperti tentang keagungan Tuhan, kemuliaan Rasulullah, dan syair keagamaan lainnya.

e. Seni Baca Al Qur’an

Seni Baca Al Qur'an

Umat Islam memandang Al Qur’an, tidak hanya sebagai kitab suci namun Al Qur’an juga dipandang dikembangkan oleh para ulama terdahulu, sehingga menghasilkan berbagai macam ilmu qiraat (bacaan). Ada yang menghasilkan tujuh macam qiraat (Qiraah Sab’ah), sepuluh Qiraah (Qiraah Asyrah), dan sebagainya. Untuk meningkatkan kualitas seni baca Al Qur’an dan pemahamannya, pemerintah Indonesia menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) dalam dua tahun sekali. Sedangkan untuk membina dan melestarikan seni budaya tersebut, dibentuklah Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ).

Manfaat yang Dapat Diambil dari Sejarah Perkembangan Islam di Indonesia

Manfaat yang dapat diambil dari mempelajari sejarah perkembangan Islam di Indonesia, antara lain.

  1. Dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang sejarah perjuangan kaum muslimin dalam mengembangkan agama Islam di bumi Nusantara.
  2. Dapat meneladani semangat juang dan pengorbanan kaum muslimin terdahulu, dalam rangka menyebarkan agama Islam dan membela bangsa dan negara.
  3. Meneladani kecintaan kaum muslimin terdahulu kepada ilmu pengetahuan, baik ilmu-ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum.
  4. Meneladani kesuksesan dan menjadikan pelajaran atas kegagalan mereka.

Ciri-ciri Perkembangan Islam di Indonesia

1. Islam Berkembang secara Natural

Artinya, agama Islam di Indonesia berkembang secara alami, evolutif, berjalan apa adanya, tidak ada paksaan dan tidak pula dengan kekerasan. Bagi yang tertarik boleh ikut dan masuk agama Islam, dan bagi yang tidak, boleh menolak dan boleh mengatakan keberatan.

2. Islam Berkembang secara Kultural

Para ulama terdahulu mengembangkan Islam melalui kebudayaan, baik seni budaya maupun adat istiadat yang secara substansial tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dengan demikian, agama Islam dapat berkembang dengan pesat tanpa mendapat perlawanan yang berarti dari masyarakat negeri ini.

3. Islam Berkembang secara Persuasif

Para ulama terdahulu mengembangkan Islam tidak dengan cara represif (kekerasan), melainkan dengan persuasif dan kekeluargaan. Sehingga mereka berhasil meraih simpati dan kepercayaan dari lingkungan masyarakat itulah, agama Islam dapat mudah berkembang dan diterima oleh masyarakat dengan senang hati.

Contoh Perkembangan Islam di Indonesia

Setelah kemerdekaan bangsa ini diraih berkat rahmat Allah SWT. dan kerja keras para pejuang umat Islam dan para ulama senantiasa mengawal setiap program pembangunan yang dirancangkan oleh pemerintah. Selain itu, usaha untuk mempertahankan aqidah Islam bangsa ini juga terus dilakukan oleh para ulama, sehingga agama Islam berkembang dari waktu ke waktu.

Para ulama dan umat Islam pada umumnya, tidak mau berdiam diri dan berpangku tangan sebagai penonton dalam upaya pembangunan bangsa dan negara. Oleh karena itu, mereka terus berkiprah dan mengambil peran aktif dalam setiap lini pembangunan, baik terlibat langsung secara formal dalam kelembagaan negara maupun secara nonformal dan informal melalui organisasi kemasyarakatan dan keagamaan. Dengan demikian, agama Islam dapat terus berkembang sampai saat ini bahkan terus mengalami kemajuan sampai saat ini.

Perkembangan Islam di Indonesia dapat dilihat dari banyaknya organisasi kemasyarakatan (ormas), bahkan organisasi sosial politik (orsospol), organisasi profesi, dan sebagainya yang berasaskan Islam dan atau berlabel Islam.

Hal ini menunjukkan umat Islam untuk menjalankan syari’at Islam secara formal melalui peraturan perundang-undangan sangat tinggi. Pada sidang MPR tahun 1999 para anggota majlis sepakat melakukan amandemen UUD 1945, dan umat Islam berkeinginan memasukkan salah satu butir dari Piagam Jakarta yang intinya mengharuskan umat Islam bangsa ini menjalankan syari’at Islam. Namun upaya itu gagal demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, mengingat penduduk negeri tidak semuanya memeluk agama Islam.

Umat Islam terus berupaya mengembangkan dakwah Islam dari berbagai lini dengan berbagai macam dan strategi. Sehingga akhir-akhir ini, banyak pemerintah daerah yang berkeinginan menegakkan syari’at Islam melalui peraturan daerah. Organisasi-organisasi itu semua bernapaskan dakwah Islam, yakni menjunjung aqidah tauhid dan amar ma’ruf nahi munkar. Semoga saja Islam tetap jaya di bumi Nusantara ini.

Hikmah dari Perkembangan Islam di Indonesia

  1. Memberikan dorongan positif dalam menegakkan kebenaran.
  2. Menumbuhkan sikap percaya diri dalam menyampaikan kebenaran.
  3. Membangun dan menanamkan sikap konstruktif dan dinamis.
  4. Menumbuhkan sikap tenggang rasa dan bijaksana.

Sejak abad VII agama Islam telah dianut penduduk melalui perantara para pedagang dan mubaligh dari Arab Saudi. Dengan melalui beberapa tahapan penyebaran, agama Islam akhirnya diterima oleh masyarakat, bahkan menjadi agama yang paling banyak dianut. Hal ini seharusnya menjadi pendorong bagi kita untuk meneruskan perjuangan mereka dalam berdakwah. Di antara caranya adalah berjihad membangun bangsa dengan memasukkan nilai-nilai ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply