Sejarah Singkat Perfilman Indonesia

Sejarah Perfilman Indonesia – Film tentu bukan sesuatu yang asing dalam kehidupan kita sehari-hari, di mana media ini adalah hiburan sekaligus seni dalam masyarakat. Film juga merupakan bagian dari sejarah dan budaya masyarakat yang di turunkan dari generasi ke generasi dan menjadi kekayaan suatu bangsa. Pada pembahasan kali ini mengenai Perkembangan Film Indonesia dari masa ke masa, untuk lebih memahaminya yuk disimak.

Awal Perfilman Indonesia (1900 – 1925)

Masyarakat Indonesia sudah mengenal film tahun 1900 -an. Ketika itu film disebut juga “gambar hidoep”. Pada masa kolonial ketika itu, bioskop dibagi dalam tiga golongan berdasarkan status penonton, yaitu bioskop untuk orang Eropa, untuk orang menengah dan untuk golongan orang pinggiran. Pada tahun 1925, koran De Locomotif sempat menulis sebuah artikel. Artikel itu semacam usulan untuk membuat sebuah film.

Mulai Adanya Perusahaan Produksi Film di Indonesia (1926 – 1930)

Dua orang belanda bernama L. Houveldorp dan G.Kruger mendirikan perusahaan film, bernama Java Film Coy. Perusahaan ini berlokasi di Bandung. Pada tahun yang sama perusahaan film memproduksi film pertamanya berjudul Loetoeng Kasarung. Film ini diputar 31 Desember 1926. Pada tahun 1927, film Euis Atjih diproduksi. Film ini berkisah tentang istri yang disia-siakan oleh suaminya yang suka foya-foya.

Wong Brothers dari Cina (Nelson Wong, Joshua Wong, dan Othniel Wong) mendirikan perusahaan film bernama Halimun Film dan memproduksi film pertamanya Lily Van Java yaitu pada tahun 1928. Perusahaan film baru bernama Batavia Film yang didirikan Wong Brothers.

Selain Wong Brothers, ada pula perusahaan milik Tan Boen Swan dan Nansing Film, Tan’s Film. Perusahaan Tan Boen Swan dan Nansing memproduksi Setangan Berloemoer Darah (1928) dan Resia Borobudur (1928).

Pada tahun 1930, G.Kruger mendirikan perusahaan film sendiri bernama Kruger Filmbedriff, yang memproduksi Karnadi Anemer Bangkong (1930) dan Atma De Visher (1931). Selain itu orang Belanda lain, F.Carli mendirikan perusahaan film bernama Kinowerk Carli atau Cosmos Film Corp yang memproduksi De Steam des Bloed (Nyai Siti,1930), Karina’s Zelfopoffering (1932). Sedangkan Tan’s film dan Batavia Film pada tahun 1930an memproduksi Nyai Dasima (1930), Si Tjonat (1930). Sedangkan Halimun Film memproduksi Lari ke Arab (1930).

Masuk Era Film Bicara (1931)

Dua film tercatat sebagai film bicara Indonesia pertama yaitu Nyai Dasima (1931) yang dibuat ulang oleh Tan’s Film serta Zuster Theresia (1931) produksi Halimun Film. Masa ini juga muncul The Teng Chun yang mendirikan perusahaan The Teng Chun “Cino Motion Pict” dan memproduksi Buoenga Roos dari Tijikembang (1931) dan Sam Pek Eng Tai (1931). Sementara Tjo Speelt Voor de Film (1931) yang juga diproduksi oleh Wong Brothers.

Pada tahun 1935, Albert Balink yang mendirikan perusahaan Java Pasific Film dan bersama Wong Brothers memproduksi Pareh (1935). Balink dan Wong akhirnya sama-sama bangkrut.

Balink kemudian mendirikan studio film modern di daerah Polonia Batavia yang disebut Algemeene Nederland Indie Film Syndicaat (ANIF) pada tahun 1937 dan memproduksi Het Eilan der Droomen atau Terang Boelan (1937). Pemeran utama wanitanya yaitu Rockiah setelah bermain dalam film ini menjadi bintang film paling terkenal pada saat itu. Kala ini Terang Boelan adalah film yang amat populer sehingga banyak perusahaan yang menggunakan resep cerita yang sama.

Pada tahun 1939, bermunculan studio-studio baru seperti, Oriental Film, Mayestic Film, Populer Film, Union Film, dan Standard Film. Film-film populer yang muncul termasuk Rentjong Atjeh dan Alang-alang.

Dikuasainya Studio Film di Indonesia oleh Jepang (1941)

Jepang mengusai Indonesia. Semua studio ditutup dan dijadikan media propaganda perang oleh Jepang. Jepang mendirikan studio film yang bernama Nippon Eiga Sha.

Pada tahun 1945 – 1949, studio milik Jepang yang sudah menjadi kementrian RI direbut oleh belanda dan berganti nama Multi Film. Film-film yang diproduksi meliputi Gadis Desa (1948) dan Djauh Dimata (1948) yang diarahkan oleh Andjar Asmara. Di era ini juga muncul nama Usmar Ismail yang nantinya akan menjadi pelopor pergerakan film nasional. Tahun 1949, The Theng Chun dan Fred Young mendirikan Bintang Surabaja. Tan Koen Youw bersama Wong mendirikan Tan dan Wong Bros yang populer adalah Air Mata Mengalir Di Tijitarum (1948).

Perfilman Indonesia Era 1950 an

Sejarah Film Indonesia

Mulai didirikannya Perfini (Perusahaan Film Nasional). Beberapa bulan kemudian dibentuk pula Persani (Perseroan Artis Indonesia). Film pertama produksi Perfini adalah Darah dan Doa atau Long March Of Siliwangi (1950) yang disutradarai oleh Usmar Ismail. Syuting pertama film film ini tanggal 30 Maret 1950, kelak ini dijadikan sebagai hari film nasional. Sementara produksi besar lainnya adalah “Dosa Tak Berampun” (1951).

Didirikannya PPFI (Persatuan Perusahaan Film Nasional) yaitu tahun 1954. Persani dan Perfini bersama-sama memproduksi film. Lewat Djam Malam (1954) disutradarai oleh Usmar Ismail.

Pertama kalinya PPFI menyelenggarakan Festival Film Indonesia tahun 1955. Yang terpilih film terbaik adalah Lewat Djam Malam (1954). Pada tahun ini juga film produksi Perfini, Tamu Agung, mendapat penghargaan khusus komedi terbaik pada ajang bergengsi Festival Film Asia.

Pada tahun 1956, dibentuknya PARFI (Persatuan Artis Film Nasional). Pada tahun 1956 Usmar Ismail mengarahkan Tiga Dara (1957) yang dirilis setahun kemudian.

Kelesuan dan Mulai Bangkitnya Perfilman Indonesia (1960 – 1970an)

Djamaludin Malik yang telah bebas dari penjara pada tahun 1962. Menyelenggarakan FFI yang kedua serta mendirikan LESBUMI (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) dengan Ketua Umum Usmar Ismail. Film-film populer yang muncul di masa pelik ini antara lain Pedjoang (1960) dan Anak-anak Revolusi (1964) karya Umar Ismail.

Mulai diadakannya Festival Film Asia Afrika (FFAA) di Jakarta pada Tahun 1964. Golongan kiri yang menguasai seluruh kepanitiaan FFAA mencetuskan berdirinya PAPFIAS (Panitia Aksi Pemboikotan Film Imperalis Amerika). Tujuan PARFIAS yaitu melarang beredarnya film-film sekutu di bioskop-bioskop Indonesia. Kondisi ini membuat bioskop-bioskop lokal dipenuhi film-film asing dari Rusia, Eropa Timur, dan RRC. PARFIAS sendiri juga tak mampu mengangkat perfilman Indonesia, sehingga bioskop kala itu sepi pengunjung.

Bioskop yang sepi pengunjung

Pada tahun 1967, Wim Umboh memproduksi film berwarna Indonesia pertama yang berjudul Sembiln (1967) yang diproduksi dengan biaya sangat tinggi.

Tahun 1969, Apa Jang kau Tjari Palupi?(1969) karya Asrul Sani, Djambang Mentjari Naga Hitam (1968) karya Lilik Sudjio, Mat Dower (1969) karya Nya Abbas Acup, Nyi Ronggeng (1969) karya Alam Surawidjaya.

Tahun 1973, diselenggarakan kembali FFI yang sempat vakum beberapa tahun. Hingga tahun 1980-an pemenang FFI masih didominasi oleh sineas-sineas seperti Wim Umboh, SyumanDjaya, Teguh Karya, serta Asrul Sani. Namun pada era ini juga sudah muncul sutradara-sutradara muda seperti, Slamet Raharjo, Franky Rorempandey, dan Ismail Subardjo. Film-film yang populer tahun 70-an diantaranya Bing Slamet koboi Cengeng, Ratapan Anak Tiri, Karmila serta Inem Pelayan.

Perfilman Indonesia Mengalami Kemajuan Era 1980 an

Perkembangan Dunia Film Indonesia
Perkembangan Dunia Film Indonesia

Pada tahun 1980 an : Film-film komedi yang dibintangi oleh grup lawak legendaris, Warkop DKI, yakni Dono, Kasino, Indro yang sangat populer. Beberapa judul filmnya antara lain: Mana Tahaaan (1979), Maju kena Mundur Kena (1983), Tahu diri Dong (1984) dan Sabar Dulu dong (1989).

Selain itu, film horor yang dibintangi oleh Suzanna juga amat populer. Beberapa judul filmnya adalah : Sundel Bolong (1981), Malam Jumat Kliwon (1986), dan Malam Satu Suro (1988).

Film aksi fantasi sejarah, Saur Sepuh: Satria Madangkara (1987), yang diadaptasi dari drama radio populer, juga sukses besar dengan empat sekuelnya. Aktor aksi, Barry Prima yang juga sukses dengan film aksi serupa melalui Jaka Sembung (1981) dengan tiga sekuelnya.

Sementara film remaja Catatan Si Boy (1987) yang dibintangi oleh Onky Alexander dan Meriam Bellina, juga sukses besar dengan empat sekuelnya.

Perfilman Mengalami Mati Suri Tahun 1990-an

Kondisi sinema Indonesia seperti mati suri dan hanya mampu menghasilkan 2 – 3 film setiap tahun, ini didukung oleh pesatnya perkembangan televisian swasta, LD, VCD, dan DVD. Sejak tahun 1993 FFI tidak lagi diselenggarakan.

Sejumlah film drama berkualitas masih muncul seperti Taksi (1990) Arifin C Noer, Sri (1997), Telegram (1997) karya Slamet Raharjo Djarot, serta Badut-Badut Kota (1993) karya Ucik Supra. Garin Nugroho. Garin Nugroho juga memulai debutnya dengan film-filmnya seperti Cinta Dalam Sepotong Roti (1990), Daun di Atas Bantal (1997), dan Puisi tak Terkuburkan (1999).

Perfilman Indonesia Era 2000 hingga Sekarang

Pasca reformasi, dianggap sebagai era kebangkitan perfilman nasional. Momen ini ditandai melalui film musikal anak-anak Petualangan Sherina (1999) karya Riri Reza serta diproduseri Mira Lesmana yang sukses besar di pasaran. Film ini semakin memicu produksi film nasional lainnya, seperti Jelangkung (2001) karya sutradara Rizal Mantovani dan Jose Purnomo, Ada Apa Dengan Cinta? (2001) karya Rudi Soedjarwo yang diproduseri oleh Mira Lesmana dan Riri Reza.

Mengikuti sukses AADC film-film roman dan melodrama remaja bermunculan. Film-film roman remaja yang populer antara lain Eiffel I’m in Love (2003) karya Nasri Ceppy, Heart (2005), Inikah Rasanya Cinta? (2005), Love in Perth (2010), Purple Love (2011), Love is U (2012).

Pada tahun 2004, Festival Film Indonesia akhirnya mulai diselenggarakan kembali. Dan tahun 2007, IMA (Indonesia Movie Award) diselenggarakan pertama kali.

Film-film anak yang populer antara lain Denias, Laskar Pelangi (2008), dan Sang Pemimpi (2009) karya Riri Reza diangkat dari novel best seller karya Andrea Hirata. Film anak-anak tidak jarang pula dipadukan dengan genre olah raga, Garuda di Dadaku (2009), King (2009), dan Tendangan Dari Langit (2011).

Pada tahun 2009, industri perfilman kita mulai melakukan terobosan dengan memproduksi film animasi musikal melalui Meraih Mimpi (2009).

Tahun 2010 hingga 2017 dunia perfilman Indonesia tetap bergeliat dan makin berwarna. Sejumlah sineas muda tanah air makin bergeliat, dan mulai memproduksi film-film bermutu yang makin merambah berbagai Festival Film Internasional. Diantaranya adalah sejumlah sineas muda asal Jogja, seperti Vakansi yang Janggal dan Penyakit Lainnya (2012) dan Istirahatlah Kata-Kata karya Yosef Anggi Noen yang mendapatkan nominasi Sutradara terbaik untuk Piala Citra, lalu ada dan On the Origin of Fear (2016) karya Bayu Prihantoro Filemon yang mendapatkan nominasi Piala Citra untuk film pendek terbaik.

Leave a Reply